Bakmi Jawa Gunungkidul Samping Tol JORR Jatiwarna

Namanya panjang ya? Well, sebenarnya namanya hanya Bakmi Jawa Gunungkidul. Tanpa nama tambahan lagi. Saya tulis panjang karena letaknya yang di samping jembatan tol JORR Jatiwarna, Pondok Melati. Sudah masuk Bekasi ini ya. Buat saya baru ini Bakmi Jawa dengan brand Gunungkidul di sekitar Jabodetabek yang punya rasa mirip dengan rasa tempat asalnya. Selama merantau disini, saya sering dikecewakan dengan bakmi yang ngaku-ngaku dari Gunungkidul. Mengapa saya bilang ngaku-ngaku? Ya karena dinamai Bakmi Jawa Gunungkidul tapi rasanya jauuuuuh dari rasa bakmi Jawa Gunungkidul. Rasanya ya hanya seperti bakmi goreng kebanyakan disini yang yaaaaaah begitulah, umum rasa mie goreng disini saja. Sedangkan kalau bakmi Jawa yang asli kan kuat bumbu kemiri, biji pala, kaldu ayam yang yahud dan citarasa manis dan gurih yang maknyuss. Ini sebenarnya masalah selera ya. Maklumlah, lidah saya kan lidah orang Jawa yang suka manis. Keluarga saya dan suami semua pecinta mie tapi dengan selera yang berbeda. Kalau keluarga saya cocok dengan citarasa bakmi Jawa yang manis gurih. Keluarga suami lebih suka bakmi yang citarasanya ala Chinese yang cenderung asin. Ya itu tadi, selera kembali ke masing-masing ya.

Jadi kami mendengar ada bakmi Jawa Gunungkidul enak di Jatiwarna dari mas sepupu saya. Dia sering jajan disini. Katanya kalau jajan disini siap-siap antri lama. Karena selain ramai, bakminya dimasak per porsi. Nunggu antrinya sampai sejam, makannya selesai 5 menit saja menurut si mas sepupu. Kami juga awalnya tidak mengkhususkan mencari tempat ini. Namun, sore itu, suami ada urusan pekerjaan dengan seseorang di daerah Jatiwarna (saya sama anak gadis ikut) dan kami lewat tempat ini dan mata saya langsung menangkap nama Gunungkidul di plang papan namanya. Memang, tiap lihat nama Gunungkidul mata saya ini sensitif, hehehe. Jangan-jangan ini bakmi yang dimaksud mas sepupu. “Mampir yuk,” rengek saya ke suami. Jadilah kami mampir. Oh iya, untuk detail lokasinya bisa dilihat di Google Maps ya.

Begitu turun, bau bakmi yang baru dimasak menguar. Saya langsung komentar, “Kayaknya rasanya bener deh ini, baunya bener soalnya.” Sudah macam Remi si tikus di film Ratatouille saja ya saya, bisa kenal rasa dari baunya saja, hehe. Warungnya kecil saja dan terkesan rupek karena banyak barang dagangan didalamnya. Di pintu masuknya dipasang nama Bakmi Jawa Gunungkidul dengan menu-menunya. Di tengah warung terdapat berbagai macam krupuk yang bisa dipilih sendiri oleh pengunjung. Ada krupuk udang, krupuk yang biasa di nasi goreng atau bubur, opak, makaroni goreng, krupuk bulat, krupuk jengkol, krupuk kulit, rempeyek, bahkan krecek alias manggleng yaitu cemilan orang Gunungkidul yang terbuat dari singkong. Sekilas saya melihat ke arah dapur dan melihat seorang bapak paruh baya yang sedang sibuk masak pesanan. Cara masak bakmi disini pun sama dengan yang di Gunungkidul. Pakai wajan wojo dan kompornya anglo dengan bahan bakarnya pakai arang bukan pakai gas. Nah, arang inilah yang membuat aroma bakmi makin cihuy.

Menunya tidak banyak, hanya seputar bakmi, bihun dan nasi. Ada juga magelangan. Menu disini bisa dipesan biasa, spesial, pakai telur ayam atau bebek dan pilihannya hanya goreng atau godog alias rebus. Eh, yang suka nyemek alias kuah sedikit juga bisa ding. Kami langsung pesan 3 porsi bakmi goreng spesial yang pakai telur bebek. Minumnya cukup teh tawar anget saja. Jadi benarkah nunggunya lama? Iyes. Kami menunggu sekitar 50 menit saja dong ya, hihi. Anak gadis yang sudah kelaparan sampai bolak balik tanya mie gorengnya kok belum jadi. Sampai kami menghabiskan seplastik krupuk jengkol, sebungkus manggleng dan makaroni selama waktu menunggu itu.

Begitu pesanan datang, anak gadis bilang hore. Dari tampilannya sih sedikit berbeda di ukuran bakmi yang lebih besar ketimbang bakmi yang di Gunungkidul. Porsinya juga tidak terlalu besar. Isinya ya bakmi, suwiran ayam kampung, telur dan kol serta daun bawang saja. Jadi, apakah rasanya sesuai ekspektasi? Yup. Menurut selera saya sih iya. Miriplah pokoknya. Rasa kemiri dan palanya kuat, kaldunya terasa. Manis dan gurihnya pas. Buat orang Jawa sih insyaa Allah cocok. Dan benar, bakmi saya dan suami habis hanya dalam waktu 5 menit saja. Dan karena cocok rasanya, saya pesan lagi bihun goreng untuk dibawa pulang sambil menunggu anak gadis selesai makan. Daripada ngen-ngen ya, hahaha. Dari segi bumbu dan rasa sih mirip ya antara bihun dan bakmi, hanya beda di tekstur bahan saja. Masalah selera lah. Bakalan jadi bakmi favorit nih buat saya dan suami.

Waktu bayar saya iseng tanya bapaknya asli mana dan ternyata memang asli Gunungkidul, dari daerah kecamatan Playen. Bapaknya sudah sekitar 8 tahun jualan bakmi disitu. Sempat bilang kalau beliau sebenarnya ingin pulang kampung saja, menikmati hari tua dengan damai. Yaaaaah Pak, jangan dalam waktu dekat ya Pak. Jadi, yang perantauan asal Gunungkidul mana suaranyaaaaaa? Monggo dicobi. Insyaa Allah mboten nguciwani. Selak bapake kukutan kundur kampung.

Udah gitu aja ^_^

sumber :

https://hestiglassy.wordpress.com/2018/07/20/bakmi-jawa-gunungkidul-samping-tol-jorr-jatiwarna/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s